Dinas Kesehatan DKI Jakarta Ungkap Upaya Kurangi Emisi dengan Jalan Kaki

- 15 Mei 2024, 00:00 WIB
Ilustrasi jalan kaki.
Ilustrasi jalan kaki. /Pikiran-rakyat.com/Armin Abdul Jabbar/

WARTA TIDORE - Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengungkapkan bahwa upaya mengurangi produksi emisi bisa dimulai dari tindakan sederhana seperti berjalan kaki ke warung atau pasar terdekat dan memilah sampah. Selain itu, masyarakat dapat menggunakan masker saat kualitas udara menurun, memanfaatkan transportasi umum, dan melakukan uji emisi kendaraan pribadi.

Wakil Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dr. Dwi Oktavia Handayani, menyampaikan hal tersebut dalam kampanye edukasi bertajuk "Udara Bersih Untuk Jakarta" di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Pandawa Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, pada Selasa, 14 MEi 2024.

Ia menekankan, pengendalian polusi udara memerlukan pendekatan yang menyeluruh, baik dari hulu maupun hilir.

Dalam studi persepsi yang dilakukan Dinas Kesehatan kepada 400 responden di sepuluh Puskesmas Kecamatan pada Desember 2023, ditemukan bahwa kesadaran mengenai sumber polusi udara sudah ada. Namun, tingkat persetujuan menurun ketika ditanya tentang tindakan yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi.

"Artinya, tantangan dari promosi edukasi adalah bagaimana mendorong masyarakat agar terjadi lebih banyak perubahan perilaku secara berkelompok,” kata dr. Dwi Oktavia.

Oleh karena itu, Dinas Kesehatan bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) melaksanakan kampanye edukasi bertajuk "Udara Bersih Untuk Jakarta", yang menyasar masyarakat rentan di permukiman padat penduduk, sebagai bagian dari strategi tanggap darurat, mengantisipasi penurunan kualitas udara pada musim kemarau.

Selain di RPTRA Pandawa Tanah Tinggi, kegiatan serupa juga dilakukan pada Senin, 13 MEi 2024 di RPTRA Si Pitung Marunda, Jakarta Utara.

Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Pusat, Rismasari, menjelaskan bahwa melalui kampanye ini masyarakat mendapatkan edukasi tentang cara mengurangi polusi udara, seperti tidak membakar sampah dan menggunakan produk yang dapat didaur ulang.

"Dengan penggunaan sampah yang tidak bisa didaur ulang, itu yang bisa menyebabkan polusi. Diharapkan kita tidak memakai botol kemasan, tetapi membawa tumbler," ujarnya.

Halaman:

Editor: Iswan Dukomalamo

Sumber: ANTARA


Tags

Artikel Pilihan

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah